Pages

Tampilkan postingan dengan label my super kids. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my super kids. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juni 2014

inilah anak-anakku (anak tanpa bapak dariku) :-)



1.       Arman yang pendiam, pinter, pegang dia sekitar 2 tahun sampek berhasil lulus SD. Pernah diundang untuk nggantikan bapak ibunya ke acara Doa Bersama di SD Ungaran, duduk bersama di antara ortu-ortu beruang. Terharu, sampek kupeluk dia ketika mc meminta semua siswa untuk memeluk orang tua masing-masing. Dia yang gak didatengin ortunya hanya bisa salim ke aku. Sungguh terharu. Pernah ke PH Amplaz juga diundang buka bersama keluarganya+semua guru les yang ngajar Arman dan kakaknya di bulan puasa tahun 2013
2.       Sabrina yang pintar bercerita. Hobinya membuat cerita, suka les cerita
3.       Hafidz calon arsitek. Gendut kurang perhatian terhadap akademiknya. Suka dimarahin karena gak serius belajarnya
4.       May yang tegar, pendiem, pinter, calon dosen bahasa inggris. Momen aku kecelakaan karena mau maen ke rumahnya. Tubrukan sama Ertiga
5.       Ayu yang centil dan sedikit cerewet, tapi kasihan karena suka dimarahin mamanya karena nilainya kurang memuaskan di mata ibunya. Kalo bapaknya tipe penerima. Bussiness man.
6.       Ariel yang lumayan, anak Ungara. Kupegang waktu dia masih duduk di kelas 1, sekitar tahun 2011, karir les pertama. Ibuke suka curhat padaku ketika aku mau pulang. Rumahe deket Happy Land. Tapi sayang ketika les suka digangguin sama adeknya yang masih balita dan rumahnya juga, mohon maaf kotor banget, kurang kondusif untuk belajar. Banyak tikus dan nyamuk, kalo ujan trocoh, jadinya duduk sampingan sama ember yang ditaruh di kursi sudut tempatku duduk
7.       Brian yang masih butuh perhatian. Terlambat bicara dulunya, umur 4 tahun baru bisa bicara. Kupegang saat kelas 2, masih fokus nulis karena masih rada berantakan. Daya nalarnya masih ketinggalan dengan teman-temannya. Sebenere cukup excited, tapi gara-gara bapaknya yang stranger aku jadi males nerusin karir dengannya.
8.       Zaki yang agak-agak disleksia. Kupegang pertama kali saat jaman UTS semester 1, dia belum apal abjad, angka pun belum. Akhir semester, pas rapotan aku diminta ibunya untuk dampingin belajar (desember) tapi baru aku kabulkan akhir januari, dan hasilnya luar biasa, banyak perubahan yang dia alami. Abjadnya lancar. Hitungnya pun demikian. Pas pamitan sempet tangis-tangisan. Toke a picture together, dapet tas, mug, kartu nama, pulang maghrib aku langsung cium pipi madam dan kedua kakinya. Trenyuh banget.
9.       Dila, pioner karirku di rumah. Yang pengen les pertama kali, ngrengek-ngrengek ke my A dan akhirnya tanggal ...mei baru kukabulkan, ternyata dia membawa pasukannya 5 orang! Mengharukan. Aku tidak woro-woro sama sekali, dia datang begitu saja tanpa kuminta untuk les.
10.   Olin, si cantik keturunan kompeni. Anaknya pinter dan supel. Rajin les kayak Dila. Paling cepet diajak ngobrol soal pelajaran.
11.   Andi yang cerewet. Cerewetnya super banget kencengnya kayak di gunung aja. Hehe. Tapi dia termasuk daftar yang selalu kucari kalo dia gak dateng les. Ternyata dia adeknya Yayuk temen ngajiku dulu, orang yang pernah aku cemburuin gara-gara nyapa my A di depanku pas jaman ngaji. Hahaha

insyallah akan segera menyusul daftar selanjutnya. 

by. GH

Selasa, 04 Februari 2014

z_ _ _

dia mudah sekali mengenali orang melalui wajahnya. dia kenal satu per satu orang yang mendampinginya belajar di sekolah. bapak ini, bapak itu, ibu ini, ibu itu. tapi dia lebih senang memanggilku dengan bu guru saat itu. namun dia tak hapal untuk mengeja nama bapak-ibu gurunya satu-satu.

lambat laun ketika setiap hari ku datang untuk menghampirinya dan kawan-kawannya dia jadi lebih terbiasa. mungkin perasaannya yang timbul adalah bahagia, rasa suka karena bisa bertemu dengan orang yang bisa mengajaknya bermain, begitu ku baca dari sorot matanya. terlihat banget selama ini dia mengalami stres karena belajarnya. tampaknya dia masih gagal untuk urusan tulis menulis. jangankan membaca buku, untuk menarik huruf-huruf yang menari-nari di ruang otaknya begitu susah. dalam sorotnya juga terlihat tidak ada perhatian yang ia dapatkan untuk membantu belajarnya. kalo soal yang lain, seperti perlengkapan sekolah, soal makan dan lainnya, jangan ditanya, karena jelas, dia adalah anak orang berada.

sempat kutanyakan kenapa anak ini berbeda dengan yang lain. kuutarakan apa yang telah aku dapat selama beberapa kali mendampinginya secara khusus di kelas. bahkan mohon maaf, aku sempat mengkategorikannya ke dalam disleksia. mungkin terlalu berlebihan, tapi gejala yang ia tunjukkan hampir mirip-mirip dengan ciri-ciri umum disleksia. beberapa hal yang menjadi gejala umum penyandang disleksia itu adalah (Wikipedia):

  1. selalunya dikesan pada peringkat awal persekolahan kanak-kanak (jelas, karena dia masih kelas 1, semester 1 lagi! lompatan dari TK itu tidak semua berhasil urusan baca tulisnya.)
  2. lambat membaca dan mempunyai tulisan tangan yang buruk (lambat baca karena dia emang belum bisa baca. dia hanya akan membunyikan huruf yang dia kenal dan hapal saja, selebihnya hanya diam sekaligus menatap wajah gurunya dengan mengernyitkan dahinya tanda tidak tahu. masalah tulisan tangan yang buruk, kurasa dia telaten, artinya gak asal-asalan nulisnya. dia udah mau mengatur tulisannya sendiri meskipun seringkali ketika benar-benar jenuh dan bosan terhadap tulisan dia baru nyerah dan nyoret asal-asalan dengan muka marah. jadi, its wajar!)
  3. ketika membaca, sering mengurang dan menambah pada suatu perkataan
  4. sering keliru dengan suatu perkataan pada huruf-huruf tertentu contohnya "b" dianggap "d" dan "p" dianggap "q". (di sinilah kelemahannya. dia begitu bingung dengan huruf-huruf yang memiliki kemiripan. salah menulis juga mengucapkannya.)
  5. perhatian mudah terganggu atau gagal untuk menghabiskan sesuatu kerja hingga habis. (kalo capek itu pasti terjadi)
  6. cenderung menjadi seorang impulsif atau sering mengikut perasaan sendiri tanpa memikirkan orang lain
  7. sering berlaku di kalangan lelaki. (jelas, karena dia juga lelaki. dia bahkan jarang dan tidak mau untuk bermain bersama anak perempuan)
  8. kerap berlaku di kalangan pasangan kembar, kanak-kanak yang lahir tidak cukup bulan, anak-anak yang lahir daripada ibu yang sudah berumur, dan kanak-kanak yang pernah mengalami kecederaan pada pada kepala
  9. masalah disleksia boleh berkelanjutan sehingga dewasa. (astagfirullah, jangan sampek lah! jangan berharap yang tidak-tidak!)
sekali lagi dia adalah laki-laki periang. namun untuk usia seumuranya, tampaknya dia masih agak tertinggal. dia lebih terlihat seperti anak TK yang masih belum berhasil beradaptasi di bangku SD.

pertama kali kudekati, dia bingung.

(bentar ya, aku baru mau ke kelas dulu. ngajar!. eh gak ding, cuman ndampingi tok!hehe)