Fly, artinya terbang. Mengepakkan kedua sayap yang berada di kanan dan kiri tubuh. Berfungsi sebagai penyeimbang ketika berada di udara. Andai dia tak memiliki kedua sayap bisa dipastikan dia akan rapuh, tak bisa menghindar ketika kekacauan udara datang menyerang.
Apakah hanya burung yang dua kaki tanpa jari yang bisa terbang?
Jangan ragu, bahwa semua makhluk tanpa terkecuali mereka punya kekuatan untuk terbang. Bukan arti yang sebenarnya tentu saja. Percaya??
Cekidot!
But, ijinkan aku pulang dulu ya, udah siang nih, mau jaga lilin!hehe
Minggu, 01 Juni 2014
mental ecek-ecek
saya sudah lama memimpikan diri menjadi seorang penulis muda. selain
bisa kreatif, mengusir lupa, juga bisa bermanfaat bagi orang lain karena
tulisan kita. lebih dahsyat lagi jika aku udah menikah nanti pasti bisa
nambahin kantong keluarga. secara otomatis pasti suami jadi lebih
sayang karena kita bisa membantu finansial selain darinya.
ahh, mungkin terlalu muluk-muluk impianku. tapi aku yakin betul bahwa menjadi seorang penulis itu membutuhkan spirit dari dalam diri luar biasa besarnya. tidak perlu repot-repot mengikuti seminar sana-sini, tapi cukup ikuti aliran hati, tanya apa yang ingin ditulis supaya bisa menulis dengan lancar kayak ini.
kau tahu? aku baru saja memenangkan perlombaan antara malas dan semangat sejak pagi tadi. dari rumah aku sudah ingin menulis, menulis, dan menulis. kalo di rumah kadang repot, banyak gangguan kepenginnya ngerjain di sekolah. tapi kalo dah sampai sekolah, ketemu wifi, udah pasti pengin kontak internet. fb an lah, googlingan lah ataupun youtube-an. sebenere nek dipikir-pikir kerjaanku sungguh gak jelas. internetan dari pagi tapi aku gak dapet apa-apa. mau ngeblog kayak gini, sungguh luar biasa repotnya, skali lagi aku harus perang! aku harus perang melawan diriku sendiri! dan ketika aku berhasil menguasai jiwa putihku, saat itu juga aku akan mengalihkan jari-jemariku ke atas keyboard leptop dan menyusunnya menjadi sebuah kata, kemudian kalimat, kemudian paragraf dalam cerita seperti yang kamu baca. aku tak peduli apa isi cerita ini ngawur, dan berplotkah atau tidak. sudahlah, baca lagi nanti. dan satu hal yang penting, ketika spirit itu betul-betul datang, maka ketika jemariku mengoyak keyboard, hidungku pun ikut berlomba kembang kempis seperti mau nangis dan kepengin gebras-gebres. ini kondisional banget, dan pasti terjadi pada momen kayak gini, yaitu masa-masa launching kalimat-kalimat pertama dalam tulisanku.
sungguh keterlaluan!
sebenarnya apa bisa aku ini menjadi penulis? dalam sebuah blog, kutemukan bahwa penulis itu memiliki mental pejuang, bukan pecundang. mental pejuang tu kayak gimana? namanya aja pejuang, so pasti dia selalu bisa mengontrol dirinya untuk selalu eksis dan berjuang menelurkan tulisan-tulisannya. dalam keadaan genting, gawat, rame di tengah kerumunan orang-orang atau di kesunyian sekalipun dengan santainya jari-jemarinya jatuh lurus aja kayak mobil nglintasin jalan tol tanpa lubang, nulis gitu aja tanpa pandang dimana tempatnya. sungguh jaya!
lha mental pecundang kayak gimana? pecundang itu bisa sengaja atau gak, tapi lebih tepatnya kalo untuk urusan tulis menulis kayak gini pasti disengaja. disengajanya juga biasaanya karena kekurangan ide, sehingga pas udah ngadep leptop kayak gini, apalagi pas konek internet gitu jadi cari-cari inspirasi dengan baca-baca berita, status orang atau baca blog orang. gayanya sih gitu, mau cari inspirasi, tapi jadinya malah kebablasan. jan gak tau diuntung! kelamaan bacanya jadi kesempitan waktu nulisnya. ntar kalo waktu dah mau abis, ato bahkan dah habis, habis beneran deh! mampus! gak dapet waktu yang bermanfaat, ya gak?!
slain karna kekurangan ide, bisa jadi karena kelebihan ide. otak jadi seolah overload! padahal kalo dipikir-pikir sebenarnya bukan otak yang overload! dia tidak salah apa-apa, bahkan kita juga belum mengenalnya dengan sepurna. buktinya? hanya 1% dari bagiannya yang baru kita gunakan, sisanya masih nanti dulu katamu, ya kan? dan karena overload juga, akhirnya otak gak sanggup, kepala jadi pusing, malah bingung apa yang mau ditulis duluan, gimana jalan ceritanya, mau dibuat belok apa lurus-lurus aja, mau dimulainya gimana dengan akhirnya mau hepi ending apa sad ending. ahh, boro-boro mikir yang penutup, orang nyampek tengah -tengah aja bingung mau nglanjutinnya kayak gimana, ya kan?
so, who am i?
i'm number 2! ya, memang demikian. sumpah aku ogah-ogahan karena aku bingung gimana memulai dan melanjutkan sebuah tulisan. aku bingung karena kemalasan slalu mencegahku keterlaluan. dia tak peduli meskipun awal tulisanku, aku menang berurutan! dia slalu menghantui dan memataiku dari belakang. kemudian aku disenggolnya kemudian aku rapuh tak karuan! sungguh menyebalkan!
aku pecundang. dan aku tak yakin aku penulis atau bukan!!
ahh, mungkin terlalu muluk-muluk impianku. tapi aku yakin betul bahwa menjadi seorang penulis itu membutuhkan spirit dari dalam diri luar biasa besarnya. tidak perlu repot-repot mengikuti seminar sana-sini, tapi cukup ikuti aliran hati, tanya apa yang ingin ditulis supaya bisa menulis dengan lancar kayak ini.
kau tahu? aku baru saja memenangkan perlombaan antara malas dan semangat sejak pagi tadi. dari rumah aku sudah ingin menulis, menulis, dan menulis. kalo di rumah kadang repot, banyak gangguan kepenginnya ngerjain di sekolah. tapi kalo dah sampai sekolah, ketemu wifi, udah pasti pengin kontak internet. fb an lah, googlingan lah ataupun youtube-an. sebenere nek dipikir-pikir kerjaanku sungguh gak jelas. internetan dari pagi tapi aku gak dapet apa-apa. mau ngeblog kayak gini, sungguh luar biasa repotnya, skali lagi aku harus perang! aku harus perang melawan diriku sendiri! dan ketika aku berhasil menguasai jiwa putihku, saat itu juga aku akan mengalihkan jari-jemariku ke atas keyboard leptop dan menyusunnya menjadi sebuah kata, kemudian kalimat, kemudian paragraf dalam cerita seperti yang kamu baca. aku tak peduli apa isi cerita ini ngawur, dan berplotkah atau tidak. sudahlah, baca lagi nanti. dan satu hal yang penting, ketika spirit itu betul-betul datang, maka ketika jemariku mengoyak keyboard, hidungku pun ikut berlomba kembang kempis seperti mau nangis dan kepengin gebras-gebres. ini kondisional banget, dan pasti terjadi pada momen kayak gini, yaitu masa-masa launching kalimat-kalimat pertama dalam tulisanku.
sungguh keterlaluan!
sebenarnya apa bisa aku ini menjadi penulis? dalam sebuah blog, kutemukan bahwa penulis itu memiliki mental pejuang, bukan pecundang. mental pejuang tu kayak gimana? namanya aja pejuang, so pasti dia selalu bisa mengontrol dirinya untuk selalu eksis dan berjuang menelurkan tulisan-tulisannya. dalam keadaan genting, gawat, rame di tengah kerumunan orang-orang atau di kesunyian sekalipun dengan santainya jari-jemarinya jatuh lurus aja kayak mobil nglintasin jalan tol tanpa lubang, nulis gitu aja tanpa pandang dimana tempatnya. sungguh jaya!
lha mental pecundang kayak gimana? pecundang itu bisa sengaja atau gak, tapi lebih tepatnya kalo untuk urusan tulis menulis kayak gini pasti disengaja. disengajanya juga biasaanya karena kekurangan ide, sehingga pas udah ngadep leptop kayak gini, apalagi pas konek internet gitu jadi cari-cari inspirasi dengan baca-baca berita, status orang atau baca blog orang. gayanya sih gitu, mau cari inspirasi, tapi jadinya malah kebablasan. jan gak tau diuntung! kelamaan bacanya jadi kesempitan waktu nulisnya. ntar kalo waktu dah mau abis, ato bahkan dah habis, habis beneran deh! mampus! gak dapet waktu yang bermanfaat, ya gak?!
slain karna kekurangan ide, bisa jadi karena kelebihan ide. otak jadi seolah overload! padahal kalo dipikir-pikir sebenarnya bukan otak yang overload! dia tidak salah apa-apa, bahkan kita juga belum mengenalnya dengan sepurna. buktinya? hanya 1% dari bagiannya yang baru kita gunakan, sisanya masih nanti dulu katamu, ya kan? dan karena overload juga, akhirnya otak gak sanggup, kepala jadi pusing, malah bingung apa yang mau ditulis duluan, gimana jalan ceritanya, mau dibuat belok apa lurus-lurus aja, mau dimulainya gimana dengan akhirnya mau hepi ending apa sad ending. ahh, boro-boro mikir yang penutup, orang nyampek tengah -tengah aja bingung mau nglanjutinnya kayak gimana, ya kan?
so, who am i?
i'm number 2! ya, memang demikian. sumpah aku ogah-ogahan karena aku bingung gimana memulai dan melanjutkan sebuah tulisan. aku bingung karena kemalasan slalu mencegahku keterlaluan. dia tak peduli meskipun awal tulisanku, aku menang berurutan! dia slalu menghantui dan memataiku dari belakang. kemudian aku disenggolnya kemudian aku rapuh tak karuan! sungguh menyebalkan!
aku pecundang. dan aku tak yakin aku penulis atau bukan!!
Selasa, 04 Februari 2014
z_ _ _
dia mudah sekali mengenali orang melalui wajahnya. dia kenal satu per
satu orang yang mendampinginya belajar di sekolah. bapak ini, bapak
itu, ibu ini, ibu itu. tapi dia lebih senang memanggilku dengan bu guru
saat itu. namun dia tak hapal untuk mengeja nama bapak-ibu gurunya
satu-satu.
lambat laun ketika setiap hari ku datang untuk menghampirinya dan kawan-kawannya dia jadi lebih terbiasa. mungkin perasaannya yang timbul adalah bahagia, rasa suka karena bisa bertemu dengan orang yang bisa mengajaknya bermain, begitu ku baca dari sorot matanya. terlihat banget selama ini dia mengalami stres karena belajarnya. tampaknya dia masih gagal untuk urusan tulis menulis. jangankan membaca buku, untuk menarik huruf-huruf yang menari-nari di ruang otaknya begitu susah. dalam sorotnya juga terlihat tidak ada perhatian yang ia dapatkan untuk membantu belajarnya. kalo soal yang lain, seperti perlengkapan sekolah, soal makan dan lainnya, jangan ditanya, karena jelas, dia adalah anak orang berada.
sempat kutanyakan kenapa anak ini berbeda dengan yang lain. kuutarakan apa yang telah aku dapat selama beberapa kali mendampinginya secara khusus di kelas. bahkan mohon maaf, aku sempat mengkategorikannya ke dalam disleksia. mungkin terlalu berlebihan, tapi gejala yang ia tunjukkan hampir mirip-mirip dengan ciri-ciri umum disleksia. beberapa hal yang menjadi gejala umum penyandang disleksia itu adalah (Wikipedia):
pertama kali kudekati, dia bingung.
(bentar ya, aku baru mau ke kelas dulu. ngajar!. eh gak ding, cuman ndampingi tok!hehe)
lambat laun ketika setiap hari ku datang untuk menghampirinya dan kawan-kawannya dia jadi lebih terbiasa. mungkin perasaannya yang timbul adalah bahagia, rasa suka karena bisa bertemu dengan orang yang bisa mengajaknya bermain, begitu ku baca dari sorot matanya. terlihat banget selama ini dia mengalami stres karena belajarnya. tampaknya dia masih gagal untuk urusan tulis menulis. jangankan membaca buku, untuk menarik huruf-huruf yang menari-nari di ruang otaknya begitu susah. dalam sorotnya juga terlihat tidak ada perhatian yang ia dapatkan untuk membantu belajarnya. kalo soal yang lain, seperti perlengkapan sekolah, soal makan dan lainnya, jangan ditanya, karena jelas, dia adalah anak orang berada.
sempat kutanyakan kenapa anak ini berbeda dengan yang lain. kuutarakan apa yang telah aku dapat selama beberapa kali mendampinginya secara khusus di kelas. bahkan mohon maaf, aku sempat mengkategorikannya ke dalam disleksia. mungkin terlalu berlebihan, tapi gejala yang ia tunjukkan hampir mirip-mirip dengan ciri-ciri umum disleksia. beberapa hal yang menjadi gejala umum penyandang disleksia itu adalah (Wikipedia):
- selalunya dikesan pada peringkat awal persekolahan kanak-kanak (jelas, karena dia masih kelas 1, semester 1 lagi! lompatan dari TK itu tidak semua berhasil urusan baca tulisnya.)
- lambat membaca dan mempunyai tulisan tangan yang buruk (lambat baca karena dia emang belum bisa baca. dia hanya akan membunyikan huruf yang dia kenal dan hapal saja, selebihnya hanya diam sekaligus menatap wajah gurunya dengan mengernyitkan dahinya tanda tidak tahu. masalah tulisan tangan yang buruk, kurasa dia telaten, artinya gak asal-asalan nulisnya. dia udah mau mengatur tulisannya sendiri meskipun seringkali ketika benar-benar jenuh dan bosan terhadap tulisan dia baru nyerah dan nyoret asal-asalan dengan muka marah. jadi, its wajar!)
- ketika membaca, sering mengurang dan menambah pada suatu perkataan
- sering keliru dengan suatu perkataan pada huruf-huruf tertentu contohnya "b" dianggap "d" dan "p" dianggap "q". (di sinilah kelemahannya. dia begitu bingung dengan huruf-huruf yang memiliki kemiripan. salah menulis juga mengucapkannya.)
- perhatian mudah terganggu atau gagal untuk menghabiskan sesuatu kerja hingga habis. (kalo capek itu pasti terjadi)
- cenderung menjadi seorang impulsif atau sering mengikut perasaan sendiri tanpa memikirkan orang lain
- sering berlaku di kalangan lelaki. (jelas, karena dia juga lelaki. dia bahkan jarang dan tidak mau untuk bermain bersama anak perempuan)
- kerap berlaku di kalangan pasangan kembar, kanak-kanak yang lahir tidak cukup bulan, anak-anak yang lahir daripada ibu yang sudah berumur, dan kanak-kanak yang pernah mengalami kecederaan pada pada kepala
- masalah disleksia boleh berkelanjutan sehingga dewasa. (astagfirullah, jangan sampek lah! jangan berharap yang tidak-tidak!)
pertama kali kudekati, dia bingung.
(bentar ya, aku baru mau ke kelas dulu. ngajar!. eh gak ding, cuman ndampingi tok!hehe)
Jumat, 17 Januari 2014
global writing
aku makin iri ketika membaca tulisan orang-orang (baca:penulis) yang mempromosikan gerakan menulis di berbagai media. mereka dengan gampangnya mengatakan bahwa menulis itu mudah, bahkan semudah berbicara. menulis itu gak perlu memikirkan latar belakang pendidikannya, yang jelas harus busa menulis dan membaca, itu saja. kurasa, semua orang di dunia ini sudah lulus kriteria itu, bahkan anak TK pun juga (yang dah pinter tentunya).
mereka juga ngomong bila nulis itu melegakan, membahagiakan dan mendewasakan. melegakan bagaimana? kaupikir segampang itu? iya lah, lea karena sama artinya kita sedekah. kita bisa memberikan ilmu yang kita miliki kepada orang lain. tanpa harus tatap muka dan menyeleksi mereka layaknya guru di sekolah. kalo udah di sekolah, dan seorang guru sudah diamanahi 1 kelas tentunya akan tidak etis jika mengajar kelas lain dengan meninggalkan kelas sendiri tanpa ada ijin lisan atau tertulis. bisa seenaknya saja ngajarin orang. bukan. bukan itu! tetapi, lega karena kita sudah tahu karena berilmu dan kita dibelkali kemampuan untuk membagikan ilmu itu kepada orang lain. tentu saja kita jadi tidak ada beban karena kita berikan semua itu dengan niat ikhlas. cuma, bagaimana kita bisa mengelolanya supaya ilmu yang kita sampaikan itu bisa masuk dalam otak orang lain, bukan cuma masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. kalau orang lain bisa karena kita, tentu itu sangat melegakan karena orang itu tidak akan merepotkan kita nanti kelak. ada pepatah cina yang mengatakan (kalau tidak salah: berarti bener dong!hehe) "jangan memberikan ikan itu kepada anakmu, tapi berikanlah cara bagaimana menangkap ikan itu!". intinya, kita janganlah selalu di bawah orang lain, ngawulo kepada orang lain selamanya, seperti kepada anak kecil yang dimanja, tapi ajari mereka untuk melakukan apa yang ia inginkan, supaya mereka dapat belajar prosesnya, merasakan pahit dan manisnya, asam dan garamnya. begitulah.
mereka juga ngomong bila nulis itu melegakan, membahagiakan dan mendewasakan. melegakan bagaimana? kaupikir segampang itu? iya lah, lea karena sama artinya kita sedekah. kita bisa memberikan ilmu yang kita miliki kepada orang lain. tanpa harus tatap muka dan menyeleksi mereka layaknya guru di sekolah. kalo udah di sekolah, dan seorang guru sudah diamanahi 1 kelas tentunya akan tidak etis jika mengajar kelas lain dengan meninggalkan kelas sendiri tanpa ada ijin lisan atau tertulis. bisa seenaknya saja ngajarin orang. bukan. bukan itu! tetapi, lega karena kita sudah tahu karena berilmu dan kita dibelkali kemampuan untuk membagikan ilmu itu kepada orang lain. tentu saja kita jadi tidak ada beban karena kita berikan semua itu dengan niat ikhlas. cuma, bagaimana kita bisa mengelolanya supaya ilmu yang kita sampaikan itu bisa masuk dalam otak orang lain, bukan cuma masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. kalau orang lain bisa karena kita, tentu itu sangat melegakan karena orang itu tidak akan merepotkan kita nanti kelak. ada pepatah cina yang mengatakan (kalau tidak salah: berarti bener dong!hehe) "jangan memberikan ikan itu kepada anakmu, tapi berikanlah cara bagaimana menangkap ikan itu!". intinya, kita janganlah selalu di bawah orang lain, ngawulo kepada orang lain selamanya, seperti kepada anak kecil yang dimanja, tapi ajari mereka untuk melakukan apa yang ia inginkan, supaya mereka dapat belajar prosesnya, merasakan pahit dan manisnya, asam dan garamnya. begitulah.
Label:
global writing
Lokasi: Yogyakarta
South East Asia
Kamis, 16 Januari 2014
(bisa) dari swasta dulu
untuk belajar tidak harus yang menghadap buku, duduk sedeku, anteng sambil mendengarkan bu guru. tetapi bisa juga dengan duduk santai biasa, sambil leyeh-leyeh, bersandar, alih-alih mengamati sekitar, menenggelamkannya jauh di pikiran dan memaknainya. belajar itu adalah sesuatu aktivitas yang kita bisa mengambil apa yang ada di dalamnya, apa yang dapat kita lakukan untuk diri sendiri atau orang lain, pun apa yang buruk supaya kita tahu pantangan dan resiko akan sesuatu.
sekarang, sudah hampir 20 tahun mengenyam pendidikan formal. ngadep buku, lingguh sedeku gek mirengake bu guru, dan pengalaman-pengalaman di luar yang mengiringi proses itu hingga kini aku jadi seperti saat ini. sebagai seorang diri yang menghambakan pada komputer sekolah. ingin rasanya jadi seorang yang lebih dari dulu setiap harinya.
kadang kala kita tidak menyadari apakah kita tulus menjalankannya atau tidak. niat bener atau tidak. yang jelas, ketika tulisan ini terbit, aku belum sepenuhnya mengabdikan diri untuk sekolah ini. aklu masih sama seperti kemarin, merasa bosan dan ingin segera resign. hanya tak tau siapa orang disini yang akan kucurhati, mungkin hanya kamu aja yang bakalan tau semuanya (baca:pc).
sekarang, sudah hampir 20 tahun mengenyam pendidikan formal. ngadep buku, lingguh sedeku gek mirengake bu guru, dan pengalaman-pengalaman di luar yang mengiringi proses itu hingga kini aku jadi seperti saat ini. sebagai seorang diri yang menghambakan pada komputer sekolah. ingin rasanya jadi seorang yang lebih dari dulu setiap harinya.
kadang kala kita tidak menyadari apakah kita tulus menjalankannya atau tidak. niat bener atau tidak. yang jelas, ketika tulisan ini terbit, aku belum sepenuhnya mengabdikan diri untuk sekolah ini. aklu masih sama seperti kemarin, merasa bosan dan ingin segera resign. hanya tak tau siapa orang disini yang akan kucurhati, mungkin hanya kamu aja yang bakalan tau semuanya (baca:pc).
Sabtu, 16 Oktober 2010
Pengaruh Minyak goreng Jelantah bagi Kesehatan
ehmm,, memang benar minyak goreng jelantah sangat bahaya bagi kesehatan kita, karena setelah pemakaian 3-4 kali asam lemak yang terkadung dalam minyak itu akan semakin jenuh, dan inilah yang akan mengakibatkan karsinogenik bila dikonsumsi secara terus menerus (akan terakumulasi dalam tubuh membnetuk asam lemak jenuh).
Di daerahku, seringkali ibu-ibu rumah tangga menyiasatinya dengan mencampurkan minyak goreng bekas tadi dengan minyak goreng baru yang akan dipakai (dioplos). Selain itu juga dengan menggoreng nasi sehingga minyak yang awalnya kental dan berubah warna menjadi hitam terlihat lebih jernih. upaya ini mereka lakukan, sehingga mereka pikir ini lebih baik dan tidak berbahaya sehingga tidak harus membeli minyak yang baru lagi, yang otomatis juga keluar biaya. tentunya sangat memberatkan bagi mereka yang tingkat ekonominya menengah ke bawah.
Tingkat kehigienisan minyak sangat penting. Jadi kita harus pinter-pinter milih minyak goreng. Karena banyak produk minyak goreng yang digembar-gemborkan mengandung omega 3, omega 6, dan omega 9 tetapi di dalam kemasan tidak dijelaskan secara rinci tentang berapa kali pemakaian yang aman itu. Sehingga masyarakat awam tidak tahu bahaya dari yang mereka konsumsi sendiri.
Harusnya, baik pemerintah atupun pihak perusahaan ada sosialisasi pada masyarakat supaya mereka bisa mengantisipasi dan menyiasati sendiri kemungkinan terburuknya.
Di daerahku, seringkali ibu-ibu rumah tangga menyiasatinya dengan mencampurkan minyak goreng bekas tadi dengan minyak goreng baru yang akan dipakai (dioplos). Selain itu juga dengan menggoreng nasi sehingga minyak yang awalnya kental dan berubah warna menjadi hitam terlihat lebih jernih. upaya ini mereka lakukan, sehingga mereka pikir ini lebih baik dan tidak berbahaya sehingga tidak harus membeli minyak yang baru lagi, yang otomatis juga keluar biaya. tentunya sangat memberatkan bagi mereka yang tingkat ekonominya menengah ke bawah.
Tingkat kehigienisan minyak sangat penting. Jadi kita harus pinter-pinter milih minyak goreng. Karena banyak produk minyak goreng yang digembar-gemborkan mengandung omega 3, omega 6, dan omega 9 tetapi di dalam kemasan tidak dijelaskan secara rinci tentang berapa kali pemakaian yang aman itu. Sehingga masyarakat awam tidak tahu bahaya dari yang mereka konsumsi sendiri.
Harusnya, baik pemerintah atupun pihak perusahaan ada sosialisasi pada masyarakat supaya mereka bisa mengantisipasi dan menyiasati sendiri kemungkinan terburuknya.
wajah baru... semangat baru
Sudah kesekian lamanya vakum dari blog, rasanya kangeeen banget.
cuma emang bener sih kadang aku bingung mau nulis apa...Tapi dari sini, aku pengen balik awal lagi, kepengen rutin buat ngunjungin blogq sendiri...
ayolah Galih.... semangat lah kamu pasti bisa...!!!
cuma emang bener sih kadang aku bingung mau nulis apa...Tapi dari sini, aku pengen balik awal lagi, kepengen rutin buat ngunjungin blogq sendiri...
ayolah Galih.... semangat lah kamu pasti bisa...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)