Pages

Minggu, 08 Juni 2014

mental ecek-ecek

saya sudah lama memimpikan diri menjadi seorang penulis muda. selain bisa kreatif, mengusir lupa, juga bisa bermanfaat bagi orang lain karena tulisan kita. lebih dahsyat lagi jika aku udah menikah nanti pasti bisa nambahin kantong keluarga. secara otomatis pasti suami jadi lebih sayang karena kita bisa membantu finansial selain darinya.

ahh, mungkin terlalu muluk-muluk impianku. tapi aku yakin betul bahwa menjadi seorang penulis itu membutuhkan spirit dari dalam diri luar biasa besarnya. tidak perlu repot-repot mengikuti seminar sana-sini, tapi cukup ikuti aliran hati, tanya apa yang ingin ditulis supaya bisa menulis dengan lancar kayak ini.

kau tahu? aku baru saja memenangkan perlombaan antara malas dan semangat sejak pagi tadi. dari rumah aku sudah ingin menulis, menulis, dan menulis. kalo di rumah kadang repot, banyak gangguan kepenginnya ngerjain di sekolah. tapi kalo dah sampai sekolah, ketemu wifi, udah pasti pengin kontak internet. fb an lah, googlingan lah ataupun youtube-an.  sebenere nek dipikir-pikir kerjaanku sungguh gak jelas. internetan dari pagi tapi aku gak dapet apa-apa. mau ngeblog kayak gini, sungguh luar biasa repotnya, skali lagi aku harus perang! aku harus perang melawan diriku sendiri! dan ketika aku berhasil menguasai jiwa putihku, saat itu juga aku akan mengalihkan jari-jemariku ke atas keyboard leptop dan menyusunnya menjadi sebuah kata, kemudian kalimat, kemudian paragraf dalam cerita seperti yang kamu baca. aku tak peduli apa isi cerita ini ngawur, dan berplotkah atau tidak. sudahlah, baca lagi nanti. dan satu hal yang penting, ketika spirit itu betul-betul datang, maka ketika jemariku mengoyak keyboard, hidungku pun ikut berlomba kembang kempis seperti mau nangis dan kepengin gebras-gebres. ini kondisional banget, dan pasti terjadi pada momen kayak gini, yaitu masa-masa launching kalimat-kalimat pertama dalam tulisanku.

sungguh keterlaluan!

sebenarnya apa bisa aku ini menjadi penulis? dalam sebuah blog, kutemukan bahwa penulis itu memiliki mental pejuang, bukan pecundang. mental pejuang tu kayak gimana? namanya aja pejuang, so pasti dia selalu bisa mengontrol dirinya untuk selalu eksis dan berjuang menelurkan tulisan-tulisannya. dalam keadaan genting, gawat, rame di tengah kerumunan orang-orang atau di kesunyian sekalipun dengan santainya jari-jemarinya jatuh lurus aja kayak mobil nglintasin jalan tol tanpa lubang, nulis gitu aja tanpa pandang dimana tempatnya. sungguh jaya!

lha mental pecundang kayak gimana? pecundang itu bisa sengaja atau gak, tapi lebih tepatnya kalo untuk urusan tulis menulis kayak gini pasti disengaja. disengajanya juga biasaanya karena kekurangan ide, sehingga pas udah ngadep leptop kayak gini, apalagi pas konek internet gitu jadi cari-cari inspirasi dengan baca-baca berita, status orang atau baca blog orang. gayanya sih gitu, mau cari inspirasi, tapi jadinya malah kebablasan. jan gak tau diuntung! kelamaan bacanya jadi kesempitan waktu nulisnya. ntar kalo waktu dah mau abis, ato bahkan dah habis, habis beneran deh! mampus! gak dapet waktu yang bermanfaat, ya gak?!

slain karna kekurangan ide, bisa jadi karena kelebihan ide. otak jadi seolah overload! padahal kalo dipikir-pikir sebenarnya bukan otak yang overload! dia tidak salah apa-apa, bahkan kita juga belum mengenalnya dengan sepurna. buktinya? hanya 1% dari bagiannya yang baru kita gunakan, sisanya masih nanti dulu katamu, ya kan? dan karena overload juga, akhirnya otak gak sanggup, kepala jadi pusing, malah bingung apa yang mau ditulis duluan, gimana jalan ceritanya, mau dibuat belok apa lurus-lurus aja, mau dimulainya gimana dengan akhirnya mau hepi ending apa sad ending. ahh, boro-boro mikir yang penutup, orang nyampek tengah -tengah aja bingung mau nglanjutinnya kayak gimana, ya kan?

so, who am i?

i'm number 2! ya, memang demikian. sumpah aku ogah-ogahan karena aku bingung gimana memulai dan melanjutkan sebuah tulisan. aku bingung karena kemalasan slalu mencegahku keterlaluan. dia tak peduli meskipun awal tulisanku, aku menang berurutan! dia slalu menghantui dan memataiku dari belakang. kemudian aku disenggolnya kemudian aku rapuh tak karuan! sungguh menyebalkan!

aku pecundang. dan aku tak yakin aku penulis atau bukan!!

for my A

sosok yang slalu kuidam. kau kusayang, dan kau slalu kucinta. kuinginkan dirimu slalu berada di sampingku, slalu menemaniku dimanapun dan bagaimanapun keadaanku. kutahu begitu banyak rintang yang menghadang perjalanan kita. hingga sempat kata-kata yang tak patut diucap pun pernah terlontar dari mulut kita.

tak kupungkiri, aku memang tak pernah sempurna. tapi aku juga tak ingin berpisah, karena itu sungguh menyesakkan. kenangan yang buruk tentang kita, itulah sebuah pelajaran, bahwa sebenarnya kita bisa melewatinya jika suatu saat akan mengalaminya lagi. aku tidak sedang berdoa tentang sesuatu yang buruk, tapi aku mohonkan bahwa ketika kepahitan yang sudah-sudah itu datang menghampiri, setidaknya kita telah memiliki cara. demikianlah.

untukmu yang slalu kucinta, kurasa aku ingin segera betul-betul menjadi kekasih dan pendampingmu slama-lamanya. aku betul-betul ingin momen itu terlaksana. aku tak peduli seberapa ribet urusan nikah-menikah itu, tak penting seberapa mewah atau persiapan megah apa yang harus disiapkan untuknya, yang jelas aku ingin segera dipinang olehmu, sederhana pun tak masalah. tak perlu lah walimahan yang super duper itu, kalo hanya akan menyisakan hutang orang tua, buat apa dilebih-lebihkan, ya kan?

aku yakin padamu, bahwa dirimu adalah sosok yang mengayomi, yang mampu melindungi, dan menghormati pasangannya. tentu saja engkaulah sosok yang tanggung jawab dan pengertian. betapa aku bisa menyimpannya dalam lubuk hatiku yang paling dalam, bahwa di saat gentingmu, kekacauan pekerjaanmu waktu itu, engkau slalu tampak semangat dan berusaha tampak tegar dihadapanku. bahkan engkau siap sedia menyediakan papan untuk bahan bangku dan blabak keperluan lesku. ya, sekarang aku telah membuka lapak les-lesanku, untuk anak-anak haus ilmu di sekitar rumah kita. sumpah, aku sungguh terharu ketika engkau berulangkali mengucapkannya dengan jujur. ya, hanya dengan kejujuran yang muncul dari lisanmu. aku terharu! dan kenapa rumah kita? karena kita akan hidup dari sana salah satunya, dari kegiatanku yang kecil-kecilan ini, dan oleh ketulusan keluarga sampean juga akhirnya siswa pertamaku datang dengan membawa pasukannya, dan itu dari keluarga sampean.

betapa aku yakin tentang hal ini sayangku.
betapa aku rindu
betapa aku ingin segera membangun istana denganmu

engkau begitu perhatian untuk urusanku yang satu ini. ditunggu tanggal 5 ya ynk, insyaallah nanti tak buatkan bangku. :*

terima kasih cintaku
terima kasih atas semuanya

lupyu

Minggu, 01 Juni 2014

Can you fly, Sha?

 Fly, artinya terbang. Mengepakkan kedua sayap yang berada di kanan dan kiri tubuh. Berfungsi sebagai penyeimbang ketika berada di udara. Andai dia tak memiliki kedua sayap bisa dipastikan dia akan rapuh, tak bisa menghindar ketika kekacauan udara datang menyerang.

Apakah hanya burung yang dua kaki tanpa jari yang bisa terbang?

Jangan ragu, bahwa semua makhluk tanpa terkecuali mereka punya kekuatan untuk terbang. Bukan arti yang sebenarnya tentu saja. Percaya??

Cekidot!

But, ijinkan aku pulang dulu ya, udah siang nih, mau jaga lilin!hehe

mental ecek-ecek

saya sudah lama memimpikan diri menjadi seorang penulis muda. selain bisa kreatif, mengusir lupa, juga bisa bermanfaat bagi orang lain karena tulisan kita. lebih dahsyat lagi jika aku udah menikah nanti pasti bisa nambahin kantong keluarga. secara otomatis pasti suami jadi lebih sayang karena kita bisa membantu finansial selain darinya.

ahh, mungkin terlalu muluk-muluk impianku. tapi aku yakin betul bahwa menjadi seorang penulis itu membutuhkan spirit dari dalam diri luar biasa besarnya. tidak perlu repot-repot mengikuti seminar sana-sini, tapi cukup ikuti aliran hati, tanya apa yang ingin ditulis supaya bisa menulis dengan lancar kayak ini.

kau tahu? aku baru saja memenangkan perlombaan antara malas dan semangat sejak pagi tadi. dari rumah aku sudah ingin menulis, menulis, dan menulis. kalo di rumah kadang repot, banyak gangguan kepenginnya ngerjain di sekolah. tapi kalo dah sampai sekolah, ketemu wifi, udah pasti pengin kontak internet. fb an lah, googlingan lah ataupun youtube-an.  sebenere nek dipikir-pikir kerjaanku sungguh gak jelas. internetan dari pagi tapi aku gak dapet apa-apa. mau ngeblog kayak gini, sungguh luar biasa repotnya, skali lagi aku harus perang! aku harus perang melawan diriku sendiri! dan ketika aku berhasil menguasai jiwa putihku, saat itu juga aku akan mengalihkan jari-jemariku ke atas keyboard leptop dan menyusunnya menjadi sebuah kata, kemudian kalimat, kemudian paragraf dalam cerita seperti yang kamu baca. aku tak peduli apa isi cerita ini ngawur, dan berplotkah atau tidak. sudahlah, baca lagi nanti. dan satu hal yang penting, ketika spirit itu betul-betul datang, maka ketika jemariku mengoyak keyboard, hidungku pun ikut berlomba kembang kempis seperti mau nangis dan kepengin gebras-gebres. ini kondisional banget, dan pasti terjadi pada momen kayak gini, yaitu masa-masa launching kalimat-kalimat pertama dalam tulisanku.

sungguh keterlaluan!

sebenarnya apa bisa aku ini menjadi penulis? dalam sebuah blog, kutemukan bahwa penulis itu memiliki mental pejuang, bukan pecundang. mental pejuang tu kayak gimana? namanya aja pejuang, so pasti dia selalu bisa mengontrol dirinya untuk selalu eksis dan berjuang menelurkan tulisan-tulisannya. dalam keadaan genting, gawat, rame di tengah kerumunan orang-orang atau di kesunyian sekalipun dengan santainya jari-jemarinya jatuh lurus aja kayak mobil nglintasin jalan tol tanpa lubang, nulis gitu aja tanpa pandang dimana tempatnya. sungguh jaya!

lha mental pecundang kayak gimana? pecundang itu bisa sengaja atau gak, tapi lebih tepatnya kalo untuk urusan tulis menulis kayak gini pasti disengaja. disengajanya juga biasaanya karena kekurangan ide, sehingga pas udah ngadep leptop kayak gini, apalagi pas konek internet gitu jadi cari-cari inspirasi dengan baca-baca berita, status orang atau baca blog orang. gayanya sih gitu, mau cari inspirasi, tapi jadinya malah kebablasan. jan gak tau diuntung! kelamaan bacanya jadi kesempitan waktu nulisnya. ntar kalo waktu dah mau abis, ato bahkan dah habis, habis beneran deh! mampus! gak dapet waktu yang bermanfaat, ya gak?!

slain karna kekurangan ide, bisa jadi karena kelebihan ide. otak jadi seolah overload! padahal kalo dipikir-pikir sebenarnya bukan otak yang overload! dia tidak salah apa-apa, bahkan kita juga belum mengenalnya dengan sepurna. buktinya? hanya 1% dari bagiannya yang baru kita gunakan, sisanya masih nanti dulu katamu, ya kan? dan karena overload juga, akhirnya otak gak sanggup, kepala jadi pusing, malah bingung apa yang mau ditulis duluan, gimana jalan ceritanya, mau dibuat belok apa lurus-lurus aja, mau dimulainya gimana dengan akhirnya mau hepi ending apa sad ending. ahh, boro-boro mikir yang penutup, orang nyampek tengah -tengah aja bingung mau nglanjutinnya kayak gimana, ya kan?

so, who am i?

i'm number 2! ya, memang demikian. sumpah aku ogah-ogahan karena aku bingung gimana memulai dan melanjutkan sebuah tulisan. aku bingung karena kemalasan slalu mencegahku keterlaluan. dia tak peduli meskipun awal tulisanku, aku menang berurutan! dia slalu menghantui dan memataiku dari belakang. kemudian aku disenggolnya kemudian aku rapuh tak karuan! sungguh menyebalkan!

aku pecundang. dan aku tak yakin aku penulis atau bukan!!

Selasa, 04 Februari 2014

z_ _ _

dia mudah sekali mengenali orang melalui wajahnya. dia kenal satu per satu orang yang mendampinginya belajar di sekolah. bapak ini, bapak itu, ibu ini, ibu itu. tapi dia lebih senang memanggilku dengan bu guru saat itu. namun dia tak hapal untuk mengeja nama bapak-ibu gurunya satu-satu.

lambat laun ketika setiap hari ku datang untuk menghampirinya dan kawan-kawannya dia jadi lebih terbiasa. mungkin perasaannya yang timbul adalah bahagia, rasa suka karena bisa bertemu dengan orang yang bisa mengajaknya bermain, begitu ku baca dari sorot matanya. terlihat banget selama ini dia mengalami stres karena belajarnya. tampaknya dia masih gagal untuk urusan tulis menulis. jangankan membaca buku, untuk menarik huruf-huruf yang menari-nari di ruang otaknya begitu susah. dalam sorotnya juga terlihat tidak ada perhatian yang ia dapatkan untuk membantu belajarnya. kalo soal yang lain, seperti perlengkapan sekolah, soal makan dan lainnya, jangan ditanya, karena jelas, dia adalah anak orang berada.

sempat kutanyakan kenapa anak ini berbeda dengan yang lain. kuutarakan apa yang telah aku dapat selama beberapa kali mendampinginya secara khusus di kelas. bahkan mohon maaf, aku sempat mengkategorikannya ke dalam disleksia. mungkin terlalu berlebihan, tapi gejala yang ia tunjukkan hampir mirip-mirip dengan ciri-ciri umum disleksia. beberapa hal yang menjadi gejala umum penyandang disleksia itu adalah (Wikipedia):

  1. selalunya dikesan pada peringkat awal persekolahan kanak-kanak (jelas, karena dia masih kelas 1, semester 1 lagi! lompatan dari TK itu tidak semua berhasil urusan baca tulisnya.)
  2. lambat membaca dan mempunyai tulisan tangan yang buruk (lambat baca karena dia emang belum bisa baca. dia hanya akan membunyikan huruf yang dia kenal dan hapal saja, selebihnya hanya diam sekaligus menatap wajah gurunya dengan mengernyitkan dahinya tanda tidak tahu. masalah tulisan tangan yang buruk, kurasa dia telaten, artinya gak asal-asalan nulisnya. dia udah mau mengatur tulisannya sendiri meskipun seringkali ketika benar-benar jenuh dan bosan terhadap tulisan dia baru nyerah dan nyoret asal-asalan dengan muka marah. jadi, its wajar!)
  3. ketika membaca, sering mengurang dan menambah pada suatu perkataan
  4. sering keliru dengan suatu perkataan pada huruf-huruf tertentu contohnya "b" dianggap "d" dan "p" dianggap "q". (di sinilah kelemahannya. dia begitu bingung dengan huruf-huruf yang memiliki kemiripan. salah menulis juga mengucapkannya.)
  5. perhatian mudah terganggu atau gagal untuk menghabiskan sesuatu kerja hingga habis. (kalo capek itu pasti terjadi)
  6. cenderung menjadi seorang impulsif atau sering mengikut perasaan sendiri tanpa memikirkan orang lain
  7. sering berlaku di kalangan lelaki. (jelas, karena dia juga lelaki. dia bahkan jarang dan tidak mau untuk bermain bersama anak perempuan)
  8. kerap berlaku di kalangan pasangan kembar, kanak-kanak yang lahir tidak cukup bulan, anak-anak yang lahir daripada ibu yang sudah berumur, dan kanak-kanak yang pernah mengalami kecederaan pada pada kepala
  9. masalah disleksia boleh berkelanjutan sehingga dewasa. (astagfirullah, jangan sampek lah! jangan berharap yang tidak-tidak!)
sekali lagi dia adalah laki-laki periang. namun untuk usia seumuranya, tampaknya dia masih agak tertinggal. dia lebih terlihat seperti anak TK yang masih belum berhasil beradaptasi di bangku SD.

pertama kali kudekati, dia bingung.

(bentar ya, aku baru mau ke kelas dulu. ngajar!. eh gak ding, cuman ndampingi tok!hehe)

Jumat, 17 Januari 2014

global writing

aku makin iri ketika membaca tulisan orang-orang (baca:penulis) yang mempromosikan gerakan menulis di berbagai media. mereka dengan gampangnya mengatakan bahwa menulis itu mudah, bahkan semudah berbicara. menulis itu gak perlu memikirkan latar belakang pendidikannya, yang jelas harus busa menulis dan membaca, itu saja. kurasa, semua orang di dunia ini sudah lulus kriteria itu, bahkan anak TK pun juga (yang dah pinter tentunya).

mereka juga ngomong bila nulis itu melegakan, membahagiakan dan mendewasakan. melegakan bagaimana? kaupikir segampang itu? iya lah, lea karena sama artinya kita sedekah. kita bisa memberikan ilmu yang kita miliki kepada orang lain. tanpa harus tatap muka dan menyeleksi mereka layaknya guru di sekolah. kalo udah di sekolah, dan seorang guru sudah diamanahi 1 kelas tentunya akan tidak etis jika mengajar kelas lain dengan meninggalkan kelas sendiri tanpa ada ijin lisan atau tertulis. bisa seenaknya saja ngajarin orang. bukan. bukan itu! tetapi, lega karena kita sudah tahu karena berilmu dan kita dibelkali kemampuan untuk membagikan ilmu itu kepada orang lain. tentu saja kita jadi tidak ada beban karena kita berikan semua itu dengan niat ikhlas. cuma, bagaimana kita bisa mengelolanya supaya ilmu yang kita sampaikan itu bisa masuk dalam otak orang lain, bukan cuma masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. kalau orang lain bisa karena kita, tentu itu sangat melegakan karena orang itu tidak akan merepotkan kita nanti kelak. ada pepatah cina yang mengatakan (kalau tidak salah: berarti bener dong!hehe) "jangan memberikan ikan itu kepada anakmu, tapi berikanlah cara bagaimana menangkap ikan itu!". intinya, kita janganlah selalu di bawah orang lain, ngawulo kepada orang lain selamanya, seperti kepada anak kecil yang dimanja, tapi ajari mereka untuk melakukan apa yang ia inginkan, supaya mereka dapat belajar prosesnya, merasakan pahit dan manisnya, asam dan garamnya. begitulah.

Kamis, 16 Januari 2014

(bisa) dari swasta dulu

untuk belajar tidak harus yang menghadap buku, duduk sedeku, anteng sambil mendengarkan bu guru. tetapi bisa juga dengan duduk santai biasa, sambil leyeh-leyeh, bersandar, alih-alih mengamati sekitar, menenggelamkannya jauh di pikiran dan memaknainya. belajar itu adalah sesuatu aktivitas yang kita bisa mengambil apa yang ada di dalamnya, apa yang dapat kita lakukan untuk diri sendiri atau orang lain, pun apa yang buruk supaya kita tahu pantangan dan resiko akan sesuatu.

sekarang, sudah hampir 20 tahun mengenyam pendidikan formal. ngadep buku, lingguh sedeku gek mirengake bu guru, dan pengalaman-pengalaman di luar yang mengiringi proses itu hingga kini aku jadi seperti saat ini. sebagai seorang diri yang menghambakan pada komputer sekolah. ingin rasanya jadi seorang yang lebih dari dulu setiap harinya.

kadang kala kita tidak menyadari apakah kita tulus menjalankannya atau tidak. niat bener atau tidak. yang jelas, ketika tulisan ini terbit, aku belum sepenuhnya mengabdikan diri untuk sekolah ini. aklu masih sama seperti kemarin, merasa bosan dan ingin segera resign. hanya tak tau siapa orang disini yang akan kucurhati, mungkin hanya kamu aja yang bakalan tau semuanya (baca:pc).